Kabar-syiar.com,- Emping tradisional masih menjadi camilan khas yang diproduksi masyarakat Lempuing, Kecamatan Ratu Agung, Kota Bengkulu. Hingga kini, usaha tersebut tetap bertahan di tengah banyaknya camilan modern.

Salah satunya adalah usaha emping milik Rita yang telah dijalani hampir 20 tahun. “Saya mulai membuat emping sejak masih sekolah, sampai sekarang masih terus saya kerjakan,” ujar Rita, Sabtu (17/10/26).
Emping dibuat dari buah baguk atau rinjok yang didatangkan dari wilayah utara dan Enggano. Bahan tersebut disangrai dengan pasir panas, lalu dijemur dan digoreng menggunakan api kecil agar mengembang sempurna.
Harga emping dijual mulai Rp1.000 hingga Rp2.000 per ikat berisi 10 lembar. Untuk jenis tertentu harganya mencapai Rp4.000 hingga Rp5.000, sedangkan di toko oleh-oleh sekitar Rp100.000 per kilogram.
Seorang pembeli, Sakinah, mengaku menyukai emping karena rasanya yang gurih. “Emping ini enak dijadikan camilan maupun pelengkap makanan,” katanya. Ia berharap kualitas, kemasan, dan pemasaran emping terus ditingkatkan agar semakin dikenal masyarakat.
Usaha emping tradisional di Lempuing menjadi bukti bahwa olahan pangan lokal masih memiliki nilai ekonomi. Dengan menjaga kualitas, emping khas Bengkulu diharapkan tetap diminati dan terus bertahan. (Silvia, dkk)