Kabar-syiar.com,- Mahasiswa Doktoral UIN Fatmawati Sukarno (UINFAS) Bengkulu bekerja sama dengan Program Keluarga Harapan (PKH) menggelar kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertajuk Pendampingan Strategi Komunikasi Bisnis KPM PKH Penerima Bantuan Modal melalui Pendekatan Partisipatif pada Kamis (23/4/2026), di Aula Panti Sosial Tresna Werdha Kota Bengkulu.

Kegiatan ini diikuti oleh masyarakat penerima PKH yang mendapatkan bantuan modal usaha. Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara, mulai dari penyampaian materi hingga sesi diskusi dan tanya jawab bersama narasumber.

Dua fasilitator, Zainuri dan Musyaffa menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) atau pendekatan partisipatif. Keduanya menjelaskan bahwa metode tersebut digunakan untuk mendorong peserta, komunitas penerima bantuan, serta pendamping sosial agar bersama-sama mengidentifikasi berbagai persoalan usaha yang dihadapi, kemudian mencari solusi secara kolektif. “Kami menggunakan metode PAR agar peserta bisa menemukan masalah usaha mereka sendiri dan mencari solusi bersama,” ujarnya saat diwawancarai wartawan Kabar Syiar.

Sementara itu, Ketua PKH Provinsi Bengkulu, Asih Nurwahyuni, menyampaikan bahwa program bantuan modal usaha sangat membantu Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dalam mengembangkan usahanya. “Sejauh ini program ini sangat membantu usaha KPM. Bantuan tidak diberikan dalam bentuk uang tunai, tetapi dibelanjakan bersama pendamping untuk kebutuhan usaha seperti bahan dan alat, sehingga menjadi aset bagi mereka,” ungkapnya.

PKH juga melakukan monitoring dan evaluasi secara berkelanjutan terhadap perkembangan usaha para KPM melalui sistem digital. Usaha para penerima manfaat tidak dibiarkan begitu saja, melainkan terus dipantau oleh pendamping melalui aplikasi SIGMA.

Harmawati, penerima bantuan PKH yang telah menjalankan usaha salon kecantikan selama kurang lebih 20 tahun, mengaku sangat merasakan manfaat dari program tersebut. “Program ini sangat membantu dalam menambah modal usaha saya, sekaligus memberi motivasi untuk terus mengembangkan usaha. Saya juga jadi lebih yakin untuk mengurus legalitas usaha. Tantangannya masih pada jumlah pelanggan yang tidak menentu dan lokasi usaha yang kurang terlihat, sehingga saya memanfaatkan media sosial seperti WhatsApp, Instagram, Facebook, dan TikTok untuk promosi,” ujarnya.

Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para peserta mampu mengembangkan usaha secara lebih optimal melalui strategi komunikasi bisnis yang tepat serta memiliki semangat untuk terus meningkatkan kualitas dan daya saing usahanya. (Silvia, dkk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *