Kabar-syiar.com,- Masalah kelangkaan Bio Solar di Provinsi Bengkulu sepertinya sudah jadi “menu wajib” yang tidak enak dinikmati warga setiap tahunnya. Kalau kita lihat datanya, jatah Solar subsidi untuk Bengkulu di tahun 2026 ini cuma sekitar 96.151 kiloliter, alias turun sekitar 11% dari tahun lalu. Penurunan jatah ini langsung terasa di lapangan.
Lihat saja SPBU di KM 6, KM 8, atau daerah Betungan; antrean truk mengular panjang sampai memakan badan jalan. Kondisi ini makin parah buat saudara-saudara kita yang nelayan di Seluma atau Mukomuko. Banyak dari mereka yang terpaksa tidak melaut karena Solar hilang di pasaran, atau kalaupun ada, harganya sudah “cekik leher” sampai Rp20.000 per liter di tingkat eceran. Padahal, harga resminya cuma Rp6.800.
Menurut saya, sulitnya Solar di Bengkulu ini bukan cuma karena jatah dari pusat yang sedikit, tapi karena pengawasan kita yang masih “letoy”. Ada godaan besar di sini: harga Solar subsidi sangat murah dibandingkan Solar industri seperti Dexlite yang harganya sudah di atas Rp26.000 per liter. Akhirnya, banyak truk-truk besar dari perusahaan tambang atau sawit yang ikut-ikutan antre di SPBU umum. Ini sama saja mengambil hak rakyat kecil.
Efeknya pun merembet ke mana-mana. Kalau sopir truk logistik harus menginap di jalan cuma buat antre Solar, biaya angkut barang pasti naik, dan ujung-ujungnya harga cabai atau beras di pasar ikut naik. Kita semua yang rugi. Jadi, daripada cuma sekadar pasang QR Code tapi di lapangan masih bisa “main mata”, mending pemerintah dan aparat bertindak lebih tegas. Jangan biarkan jatah Solar rakyat Bengkulu disedot oleh kendaraan perusahaan besar yang kantongnya jauh lebih tebal. (Yepi, Tim KS)