Kabar-syiar.com,- Taruh handphone sebentar, lalu baca ini dulu. Ironis memang, tetapi itulah kenyataan sekarang. Banyak pelajar tidak bisa lepas dari layar, bahkan hanya untuk lima menit. Handphone memang sudah menjadi kebutuhan, tetapi tanpa disadari juga berubah menjadi ketergantungan yang cukup mengkhawatirkan.

Coba lihat suasana di kelas. Guru sedang menjelaskan di depan, tetapi sebagian siswa justru sibuk melihat layar di bawah meja. Baru ada notifikasi langsung dibuka, video pendek lewat langsung ditonton. Tanpa sadar satu jam pelajaran habis, tetapi materi yang benar-benar dipahami hampir tidak ada.

Berdasarkan laporan digital Indonesia tahun 2025, rata-rata masyarakat Indonesia menghabiskan lebih dari 7 jam sehari menggunakan internet, dan sebagian besar digunakan untuk media sosial serta hiburan digital.Saya sendiri pernah merasakan perbedaannya. Waktu SMP, sekolah saya menerapkan aturan handphone disita selama jam pelajaran. Efeknya terasa sekali. Belajar jadi lebih fokus, kelas lebih kondusif, dan materi lebih mudah dipahami. Suasana kelas juga lebih hidup karena siswa mau tidak mau harus aktif bertanya dan berdiskusi.

Karena itu, menurut saya aturan seperti ini masih relevan diterapkan sekarang. Bukan berarti handphone harus dilarang sepenuhnya, tetapi penggunaannya perlu dibatasi. Handphone boleh dibawa ke sekolah, tetapi selama jam belajar sebaiknya disimpan terlebih dahulu dan hanya digunakan jika memang diperlukan untuk kegiatan belajar.

Handphone hanyalah alat, bukan tujuan utama. Generasi sekarang tumbuh bersama teknologi dan itu bukan sesuatu yang salah. Namun yang menjadi masalah adalah ketika teknologi justru membuat pelajar kehilangan fokus belajar. Jika dari sekarang kita tidak bisa mengatur diri sendiri, lama-kelamaan kita akan semakin sulit lepas dari ketergantungan layar. (Zazkia, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *