Kabar-syiar.com,- Suasana nyaman menyapu pelan halaman berbatu Masjid Jamik Kota Bengkulu, membawa serta gema azan yang sejak abad ke-19 menggema di tanah Rafflesia. Di balik dinding kapur yang retak namun tegak, bukan hanya ruang sujud yang terjaga, melainkan jejak perjuangan, identitas kolektif, dan denyut nadi spiritual yang menolak luntur dimakan zaman. Setiap sujud di sini seolah menjadi jembatan antara masa lalu yang heroik dan masa kini yang penuh pertanyaan..
Masjid ini didirikan oleh Daeng Makulle, seorang tokoh pedagang dari Tengah Padang, lalu dipindahkan ke lokasi sekarang di Jalan Suprapto. “Masjid Jamik ini memiliki sejarah yang sangat penting bagi masyarakat Bengkulu. Kami terus berupaya menjaga dan merawat bangunan ini agar tetap lestari dan bisa dikenal oleh generasi muda,” ujar Rusdi, selaku pengurus masjid.
Bagi jamaah seperti Fatimah, yang sering melaksanakan sholat jamaah di Masjid Jamik memberi pengalaman istimewa. “Saya merasa nyaman dan kagum setiap kali saya datang ke sini. Tempatnya tenang dan penuh nilai sejarah. Kita bisa beribadah sambil belajar tentang sejarah Bengkulu dan perjuangan Bung Karno,” ujar fatimah.
Namun, merawat bangunan berusia ratusan tahun bukan perkara mudah. Pengurus menghadapi tantangan: dana terbatas dan cuaca tropis yang merusak material tua. Ada dilema antara ingin memodernisasi fasilitas atau mempertahankan keaslian sejarah. Rusdi dan tim memilih jalan Tengah perbaikan dilakukan hati-hati, dengan kajian dan material yang sesuai dengan kaidah warisan.
Menjelang sore, suara adzan kembali terdengar. Jamaah berdatangan, melangkah di lantai yang sama dengan yang pernah diinjak Bung Karno dan para pejuang dulu. Masjid Jamik Kota Bengkulu mungkin tak bicara keras, tapi pesannya jelas merawat masa lalu itu bukan untuk dikenang saja, tapi untuk diteruskan. Selama masih ada yang sujud di sini dengan hati terbuka, masjid ini akan tetap hidup bukan sebagai museum, tapi sebagai rumah yang selalu menyambut sujud dan ketenangan. (Mayang, Tim KS)