Kabar-syiar.com,- Ombak kecil menyapu kaki para warga yang berdiri di bibir pantai Pasar Bengkulu siang itu. Langit tampak cerah ketika beberapa kapal nelayan mulai terlihat dari kejauhan. Bau ikan bisa tercium disekitar pantai. Sementara itu, dengan kayu balok ditangan, para perempuan dan laki-laki pesisir bersiapmenyambut kapal yang perlahan mendekat membawa hasil tangkapan laut.
Sejak subuh para nelayan telah berangkat melaut untuk mencari ikan. Sekitar pukul sembilan pagi, warga yang biasa “nyongsong ikan” mulai berkumpul di tepi pantai. Bagi masyarakat pesisir Pasar Bengkulu, pekerjaan itu sudah menjadi rutinitas sehari-hari untuk membantu kapal nelayan menepi sekaligus mendapatkan ikan yang nantinya bias dijual kembali.
Kayu balok yang disusun sederhana dibawa sebagai alas agar kapal lebih mudah didorong ke daratan. Dengan tenaga bersama, mereka menarik kapal sambil saling memberi
aba-aba. “Satu, dua, tiga… tarik!” Teriakan mereka bersamaan saat kapal mulai menyentuh bibir pantai.
Air laut sesekali membasahi pakaian warga yang sibuk mendorong kapal. Beberapa ikan kecil masih terlihat meloncat di dasar perahu ketika keranjang hasil tangkapan mulai dipindahkan ke darat. Setelah kapal sampai, hasil tangkapan kemudian dibagi secara merata. Meski sesekali terjadi rebutan ikan dan adu mulut kecil, pekerjaan itu tetap mereka jalani karena menjadi salah satu sumber penghasilan sehari-hari.
Mereka biasanya berpindah-pindah dari satu kapal ke kapal lain agar ikan yang didapat lebih banyak. Tapi hasilnya tidak selalu sama. Ada hari ketika mereka hanya mendapat Rp15 ribu, meski sesekali bisa membawa pulang hingga Rp50 ribu. Bagi sebagian orang jumlah itu mungkin kecil. Namun bagi warga pesisir. seperti Ibu Serli dan Ibu Ida, uang tersebut sangat berarti untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat diwawancarai, Ibu Serli tampak sibuk membersihkan ikan yang sudah digarami untuk dijadikan ikan asin. Tangannya yang mulai keriput pelan-pelan memisahkan sisa kotoran ikan sambil sesekali mengusap air di wajahnya. Bau asin ikan bercampur angin laut terasa kuat di sekitar tempat ia duduk.
Sejak 2013, Ibu Serli sudah bekerja menyongsong ikan. Ia mengaku pekerjaan itu tetap dijalaninya karena tidak punya banyak pilihan pekerjaan lain. “Kondisi ibu udah gak kuat lagi kalau kerja yang lain, paling ini aja yang mudah. Karena kalau gak berangkat nyongsong ya bisa istirahat,” ujar Ibu Serli sambil terus membersihkan ikan asin buatannya.
Selain Ibu Serli, ada pula Ibu Ida yang sudah 14 tahun bekerja sebagai penyongsong ikan demi membantu menghidupi ketiga anaknya. Hampir setiap pagi ia datang ke pantai berharap mendapatkan ikan lebih banyak untuk dijual kembali. “Kadang dapat sedikit, kadang lumayan. Tapi dari sini kami bisa makan dan bantu kebutuhan anak-anak,” katanya sambil membawa hasil ikan ditanganya.
Cuaca menjadi tantangan terbesar bagi para nelayan dan penyongsong ikan. Belakangan langit yang sering mendung membuat nelayan lebih berhati-hati saat melaut. Jika ombak tinggi atau angin terlalu kencang, hasil tangkapan ikan akan berkurang, bahkan terkadang nelayan memilih tidak melaut demi keselamatan.
Kondisi itu ikut memengaruhi penghasilan warga yang sehari-hari bergantung pada hasil laut. Kadang ikan jualan Ibu Serli juga tidak habis terjual. Supaya tidak terbuang, sisa ikan biasanya kembali digarami dan dijadikan ikan asin untuk dijual lagi keesokan harinya. “Ya semoga cuaca bagus terus. Kalau nelayan dapat ikan banyak, kami juga bisa jualan lebih banyak,” ujar Ibu serli.
Menjelang siang, pantai Pasar Bengkulu mulai sepi. Sebagian warga pulang membawa ember berisi ikan, sementara yang lain masih duduk memilah hasil tangkapan di tepi pantai. Besok pagi mereka akan kembali lagi ke pantai, menunggu kapal nelayan datang sambil berharap hasil tangkapan lebih baik dari hari ini. (Mutia)