Kabar-syiar.com,- Angin laut berembus pelan siang itu, menyapu pesisir Desa Penago 1, Kecamatan Ilir Talo, Kabupaten Seluma, Bengkulu. Langit terbuka lebar, seolah memberi ruang bagi sebuah harapan yang hendak dilepas ke samudra. Di antara deru ombak yang tak henti memecah karang, puluhan warga berjalan beriringan, mengusung sebuah miniatur perahu berwarna biru.

Perahu kecil itu tampak sederhana—dihiasi bendera merah putih dan ornamen seadanya. Namun di tangan masyarakat, ia menjelma menjadi lebih dari sekadar benda. Ia adalah titipan doa, dirangkai dari keyakinan dan harapan yang telah diwariskan lintas generasi.Langkah mereka serempak, perlahan namun pasti, menuju bibir laut. Beberapa pria mengenakan peci hitam dan busana adat, sementara lainnya memakai rompi pelampung berwarna terang. Di sanalah tradisi dan realitas masa kini bertemu—antara warisan leluhur dan kesadaran akan keselamatan.

Di tepi pantai, warga lainnya telah menunggu. Anak-anak, orang tua, hingga aparat setempat berdiri dalam satu barisan tak kasat mata. Tak ada jarak di antara mereka. Semua larut dalam suasana yang sama—hening, khidmat, namun juga hangat oleh rasa kebersamaan.

Larungan bagi masyarakat pesisir Seluma bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah cara mereka berdialog dengan alam. Laut, yang setiap hari memberi penghidupan, diperlakukan bukan hanya sebagai sumber daya, melainkan sebagai sahabat yang harus dihormati. Melalui larungan, mereka menyampaikan rasa syukur sekaligus memohon perlindungan—agar gelombang tetap bersahabat, agar rezeki terus mengalir, dan agar bencana dijauhkan.

Tradisi ini digelar satu tahun sekali sebagai bagian dari adat istiadat masyarakat, tepatnya pada 10 Muharam. Momentum tersebut dimaknai sebagai waktu yang sakral untuk memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, agar masyarakat pesisir senantiasa diberi kesehatan, keselamatan, serta kelancaran dalam mencari rezeki di tengah lautan yang luas.

Miniatur perahu itu kemudian dilepas perlahan ke permukaan air. Ombak menyambutnya, menggoyang pelan sebelum akhirnya membawa perahu itu menjauh. Di titik itulah, doa-doa dilepaskan—tanpa suara, tanpa kata, namun sarat makna. “Ini sudah menjadi tradisi turun-temurun. Harapannya sederhana, semoga kami selalu diberi keselamatan dan hasil laut yang cukup,” ujar Rustam Efendi kepala desa penago 1.

Ia menambahkan, tradisi ini juga menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarwarga yang mulai jarang bertemu di hari-hari biasa. “Lewat larungan ini, kami bisa berkumpul, saling sapa, dan mengingat lagi bahwa kami hidup bersama sebagai satu masyarakat pesisir,” tuturnya.

Di tengah derasnya arus modernisasi, larungan tetap menemukan ruangnya. Ia bertahan bukan karena kewajiban, melainkan karena kesadaran kolektif untuk menjaga identitas. Generasi muda yang hadir—sebagian memotret, sebagian lagi ikut mengarak—menjadi tanda bahwa tradisi ini belum kehilangan maknanya.

Larungan di Penago 1 bukan hanya tentang masa lalu yang dipertahankan, tetapi juga tentang masa depan yang dirawat bersama. Di antara ombak dan angin, masyarakat pesisir Seluma mengajarkan satu hal sederhana bahwa menjaga hubungan dengan alam sama pentingnya dengan menjaga hubungan antarmanusia. (Iksan, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *