Kabar-syiar.com,- Pagi itu, matahari bahkan belum sepenuhnya muncul dari ufuk timur ketika aktivitas di Pasar Panorama mulai bergerak. Suara kendaraan pengangkut barang terdengar bersahutan di antara lorong pasar yang perlahan dipenuhi pedagang dan pembeli. Bau sayur segar bercampur aroma ikan, rempah-rempah, dan kopi panas dari warung kecil di sudut pasar menciptakan suasana khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Pasar Panorama merupakan salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Bengkulu dan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat sejak lama. Pasar ini dikenal ramai hampir sepanjang hari apalagi kalau akhir pekan, karena menjual berbagai kebutuhan pokok mulai dari sayur, ikan, daging, pakaian, hingga perlengkapan rumah tangga.

Di balik ramainya aktivitas jual beli, terdapat perjuangan para penjual yang menggantungkan hidupnya dari pasar tersebut. Bagi sebagian orang, pasar hanyalah tempat berbelanja. Namun bagi para pedagang, pasar adalah sumber kehidupan, tempat mereka berjuang memenuhi kebutuhan keluarga dari pagi hingga malam hari.

Salah satunya adalah Bu Sari, seorang penjual sayur yang telah berjualan di Pasar Panorama selama lebih dari lima belas tahun. Setiap hari ia bangun sekitar pukul tiga dini hari untuk mengambil barang dagangan dari pemasok. Setelah itu, ia menata sayuran satu per satu agar terlihat segar dan menarik pembeli. “Kalau kesiangan sedikit saja, pembeli bisa pindah ke lapak lain,” ujarnya sambil merapikan ikatan kangkung di atas meja kayu sederhana.

Bagi Bu Sari, menjadi pedagang pasar bukan pekerjaan yang mudah. Ia harus menghadapi panas, hujan, harga barang yang naik turun, hingga persaingan antarpenjual. Meski demikian, ia tetap bertahan karena pasar telah menjadi bagian dari hidupnya. Keadaan Pasar Panorama sendiri sering kali mengalami berbagai persoalan klasik. Salah satunya adalah banyaknya pedagang yang berjualan di badan jalan sehingga menyebabkan kemacetan dan membuat kondisi pasar terlihat semrawut. Pemerintah Kota Bengkulu beberapa kali melakukan penertiban agar kawasan pasar menjadi lebih tertata dan nyaman.

Namun di balik berbagai aturan dan penertiban tersebut, para pedagang memiliki alasan tersendiri mengapa mereka memilih berjualan di pinggir jalan. Menurut mereka, lokasi tersebut lebih mudah terlihat pembeli dibandingkan bagian dalam pasar.

Pak Adi, penjual ikan yang sehari-hari berjualan di dekat jalan masuk pasar, mengatakan bahwa pembeli biasanya malas masuk terlalu jauh ke dalam area pasar. Karena itu banyak pedagang memilih membuka lapak di lokasi yang lebih strategis meskipun melanggar aturan.“Kalau jualan di dalam sepi pembeli. Gimana kami cari makan, jadi mau tidak mau cari tempat yang ramai,” katanya sambil melayani pembeli yang menawar harga ikan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pasar tradisional bukan sekadar tempat transaksi ekonomi, melainkan juga ruang sosial tempat berbagai kepentingan bertemu. Di sana terdapat hubungan antara pedagang, pembeli, pemerintah, hingga para buruh angkut yang semuanya saling berkaitan. Selain dikenal sebagai pasar tradisional terbesar, Pasar Panorama juga menjadi simbol denyut ekonomi masyarakat kecil di Bengkulu. Aktivitas perdagangan di pasar ini berlangsung hampir selama dua puluh empat jam. Pada pagi hari, pasar dipenuhi pedagang sayur dan kebutuhan pokok. Siang hari giliran penjual pakaian dan perlengkapan rumah tangga mendominasi. Malam harinya, sebagian pedagang makanan mulai memenuhi area pasar.

Suasana pasar menjadi semakin ramai menjelang hari besar seperti bulan Ramadan dan Idulfitri. Jalanan di sekitar pasar dipadati kendaraan dan pengunjung yang datang untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut bahkan sering menimbulkan kemacetan panjang di kawasan sekitar pasar. Meski ramai, kehidupan para penjual di pasar tidak selalu berjalan mulus. Banyak di antara mereka yang hanya memperoleh keuntungan kecil setiap harinya. Harga kebutuhan pokok yang tidak stabil sering membuat para pedagang kesulitan menentukan harga jual. Jika harga terlalu tinggi, pembeli akan berkurang. Namun jika terlalu murah, mereka bisa merugi.

Belum lagi kondisi cuaca yang kadang tidak menentu. Ketika hujan turun deras, sebagian area pasar menjadi becek dan pembeli pun berkurang. Para pedagang hanya bisa berharap dagangan mereka tetap laku agar tidak mengalami kerugian besar.

Di tengah segala keterbatasan itu, para penjual di Pasar Panorama tetap menunjukkan semangat luar biasa. Mereka saling membantu satu sama lain, bercanda di sela kesibukan, dan tetap tersenyum kepada pembeli meskipun lelah.

Bagi masyarakat Bengkulu, Pasar Panorama bukan hanya tempat jual beli, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sana terdapat cerita perjuangan, kerja keras, dan harapan orang-orang kecil yang terus bertahan di tengah perkembangan zaman dan modernisasi pasar.

Pemerintah Kota Bengkulu sendiri berencana melakukan revitalisasi dan penataan ulang kawasan Pasar Panorama agar menjadi lebih modern, tertib, dan nyaman tanpa menghilangkan identitas pasar tradisionalnya. Program tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan perdagangan yang lebih baik bagi pedagang maupun pembeli. Pada akhirnya, kehidupan para penjual di Pasar Panorama mengajarkan bahwa kerja keras dan ketekunan adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat kecil. Mereka mungkin tidak bekerja di ruangan ber-AC atau mengenakan pakaian rapi seperti pekerja kantoran, tetapi dari tangan merekalah kebutuhan banyak orang terpenuhi setiap hari.

Di tengah hiruk pikuk pasar, suara tawar-menawar, dan aroma khas perdagangan tradisional, tersimpan kisah manusia-manusia sederhana yang terus berjuang demi keluarga dan masa depan mereka. (Fajar, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *