Kabar-syiar.com,- Di era digital seperti sekarang, kita pasti sering melihat anak-anak yang lebih fokus pada layar handphone dibanding berbicara dengan orang di sekitarnya. Bahkan di tempat umum, tidak sedikit anak yang sibuk dengan handphone, sementara orang tuanya membiarkan karena anak jadi lebih tenang dan tidak rewel.
Di Indonesia, sekitar 5–10% anak mengalami keterlambatan bicara. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya interaksi dengan orang tua serta penggunaan gadget yang berlebihan. Dari sini terlihat bahwa pola asuh di era digital memang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan
anak.
Fenomena ini bukan hal yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Banyak orang tua tanpa sadar menjadikan gadget sebagai cara paling mudah untuk menenangkan anak. Memang terlihat praktis, tetapi ada dampak yang sering tidak disadari.
Saya pernah mendengar langsung cerita dari seorang ibu di lingkungan sekitar saya. Ia mengaku bahwa dirinya dan suaminya cukup sibuk mengurus usaha, sehingga anaknya sering diberikan handphone agar tidak rewel dan tidak mengganggu aktivitas mereka. Awalnya, ia merasa cara itu berhasil karena anaknya terlihat tenang dan jarang menangis.
Namun seiring waktu, ibu tersebut mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda. Anak yang selama ini dianggap “tenang” ternyata bukan karena nyaman, melainkan karena tidak mampu mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata. Anak tersebut mengalami keterlambatan bicara (speech delay) dan lebih sering menggunakan bahasa isyarat sederhana untuk menunjukkan apa yang diinginkan.
Dari cerita itu, saya merasa bahwa ketenangan anak tidak selalu menjadi tanda bahwa semuanya baik-baik saja. Justru bisa jadi, ada kebutuhan yang tidak tersampaikan. Anak bukan hanya membutuhkan suara dari gadget, tetapi percakapan nyata dari orang tuanya. Orang tua tidak harus sepenuhnya melarang gadget, tetapi perlu membatasi waktu penggunaan serta meluangkan waktu untuk berbicara dan bermain bersama anak.
Selain itu, kesibukan orang tua juga sering membuat waktu bersama anak menjadi terbatas. Anak akhirnya mencari perhatian di luar rumah, baik melalui teman maupun media sosial. Dalam kondisi seperti ini, anak lebih mudah terpengaruh oleh lingkungan yang belum tentu baik.
Pola asuh juga berperan besar. Anak yang terlalu dimanjakan bisa menjadi kurang mandiri, sedangkan anak yang terlalu ditekan bisa mengalami masalah kepercayaan diri. Semua ini menunjukkan bahwa cara orang tua mendidik anak sangat menentukan perkembangan mereka.
Yang lebih memprihatinkan, masih banyak orang tua yang belum menyadari bahwa perilaku anak sering kali merupakan cerminan dari pola asuh di rumah. Ketika anak mengalami masalah, termasuk keterlambatan bicara, seharusnya ini menjadi bahan refleksi, bukan hanya kesalahan anak semata.
Tulisan ini saya sampaikan bukan sekadar kritik, tetapi juga pengingat bahwa peran orang tua tidak bisa kita gantikan dengan teknologi. Di era digital ini, bukan hanya anak yang perlu belajar, tetapi orang tua juga perlu lebih sadar dan terlibat dalam mendampingi tumbuh kembang anak. (Mutia)