Kabar-syiar.com,- Angin laut berembus pelan, menyapu dinding kokoh yang telah berdiri tegak selama tiga abad. Di tepi Pantai Bengkulu, Benteng Marlborough atau yang mulanya dikenal sebagai Fort Marlborough berdiri megah layaknya raksasa yang tertidur, menyimpan ribuan narasi masa lalu yang tak lekang oleh zaman.

Memasuki gerbangnya, pengunjung seolah ditarik kembali ke tahun 1714. Kala itu, Joseph Collet mengajukan usul membangun pertahanan yang lebih layak kepada direktur East India Company (EIC). Nama “Marlborough” sendiri bukan sekadar nama, ia adalah penghormatan bagi John Churchill, Sang Duke of Marlborough, komandan Inggris legendaris yang memenangkan pertempuran besar di Blenheim hingga Malplaquet.

Bagi warga lokal, benteng ini adalah kebanggaan yang melintasi batas negara. Maharatika Putri Baransaragi (17), seorang remaja yang siang itu sedang menyusuri lorong museum, tak bisa menyembunyikan kekagumannya. “Saya merasa bangga. Sebagai pemuda Bengkulu, kita punya destinasi wisata yang diakui secara global. Apalagi ini sejarah yang menyangkut masa penjajahan, harus benar-benar kita jaga,” ujar Maharatika dengan mata berbinar.

Daya tarik Marlborough memang tak tertandingi. Berbeda dengan benteng-benteng lain, ia merupakan salah satu peninggalan Inggris terbesar di Asia Tenggara. Ahlu Supi, salah satu petugas pengelola, menjelaskan bahwa nilai historis inilah yang menjadi magnet utama. “Banyak pengunjung tertarik karena ini peninggalan Inggris terbesar di kawasan ini. Di sini, sejarah bukan cuma dibaca di buku, tapi bisa dirasakan langsung lewat arsitekturnya yang unik,” jelas Ahlu Supi.

Namun, sejarah di balik dinding tebal ini juga menyimpan kisah perjuangan ekonomi. Jauh sebelum tembok bata ini berdiri, Inggris telah membangun benteng pertama di antara laut dan Sungai Serut pada tahun 1585 untuk melindungi rempah-rempah dari serangan Belanda dan Prancis. Kini, semangat “bertahan hidup” itu diteruskan oleh para pelaku UMKM di sekitar area benteng.

Ibu Eli (51), salah satu pedagang yang setia menjajakan dagangannya di sana, merasakan betul betapa sejarah bisa menghidupi masa kini. Baginya, setiap langkah pengunjung yang masuk ke gerbang benteng adalah harapan bagi dapurnya. “Adanya wisata ini sangat membantu meningkatkan untung jualan, apalagi kalau pengunjung lagi ramai-ramainya. Kami sangat terbantu dengan keberadaan Benteng ini,” kata Ibu Eli sambil melayani pembeli.

Di tengah gempuran wisata modern, Benteng Marlborough menolak untuk usang. Ia bukan sekadar tumpukan bata merah dan semen tua ia adalah ruang refleksi di mana masa lalu Inggris, perjuangan bangsa, dan denyut ekonomi rakyat Bengkulu hari ini bertemu dalam satu garis cakrawala yang sama. (Wulan, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *