Kabar-syiar.com,- Di sebuah sudut kelas di salah satu kampus di Bengkulu, seorang mahasiswi tampak duduk tenang sambil sesekali memperhatikan sekitar. Senyumnya terlihat sederhana, namun di balik itu tersimpan perjalanan panjang yang tidak mudah tentang bagaimana ia belajar menerima dirinya sendiri.
Dulu, ia bukanlah sosok yang percaya diri seperti sekarang. Ia sering merasa minder karena penampilan fisiknya yang kerap menjadi bahan candaan teman-temannya. Kata-kata yang sebenarnya terdengar sepele bagi sebagian orang, ternyata meninggalkan luka yang cukup dalam baginya. Ia menjadi lebih pendiam, menarik diri dari lingkungan, dan merasa seolah tidak cukup baik dibanding orang lain. Hari-harinya saat itu banyak diisi dengan rasa cemas dan overthinking. Ia sering bertanya pada dirinya sendiri, mengapa ia harus menjadi bahan perhatian negatif. Bahkan, dalam beberapa momen, ia sempat kehilangan semangat untuk beraktivitas dan lebih memilih menyendiri.
Namun, perlahan ia mulai menyadari bahwa jika ia terus terjebak dalam rasa sakit itu, ia tidak akan pernah berkembang. Titik baliknya dimulai ketika ia mulai mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Ia mulai belajar untuk mencintai dirinya, meskipun tidak sempurna. Ia juga mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan mencoba membuka diri untuk berinteraksi kembali dengan orang lain. Proses itu tidak instan.
Ada hari-hari ketika ia masih merasa ragu dan kembali teringat masa lalu. Tetapi dukungan dari beberapa teman yang benar-benar peduli membuatnya perlahan bangkit. Mereka mengingatkannya bahwa setiap orang memiliki keunikan masing-masing, dan tidak ada standar tunggal untuk menjadi berharga. “Awalnya saya benar-benar tidak percaya diri, tapi lama-lama saya sadar kalau saya tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang komentar orang lain. Saya harus berubah untuk diri saya sendiri,” ungkapnya dengan suara pelan.
Seiring waktu, perubahan itu mulai terlihat. Ia menjadi lebih aktif di lingkungan kampus, berani berbicara di depan orang lain, dan bahkan ikut dalam beberapa kegiatan organisasi. Dari seseorang yang dulu sering menunduk, kini ia mulai berdiri tegak dengan rasa percaya diri yang tumbuh sedikit demi sedikit.
Kini, ia tidak hanya berubah secara penampilan, tetapi juga secara mental. Ia mulai memahami bahwa setiap orang memiliki proses masing-masing dalam menerima dirinya sendiri. Pengalaman pahit yang pernah ia alami justru menjadi pelajaran berharga yang membuatnya lebih kuat.
Bagi dirinya, perjalanan ini bukan hanya tentang perubahan fisik, tetapi tentang bagaimana seseorang belajar menghargai dirinya sendiri di tengah tekanan dan pandangan orang lain. Ia berharap kisahnya bisa.menjadi pengingat bahwa setiap orang layak untuk merasa cukup dan berharga, apa adanya. (Nova, Tim KS)