Kabar-syiar.com,- Di tengah perkembangan teknologi yang membawa banyak perubahan, perubahan tersebut juga semakin memudahkan mahasiswa dalam menyelesaikan berbagai tugas akademik. Salah satunya dengan hadirnya ChatGPT. Aplikasi yang saat ini sering digunakan oleh berbagai kalangan, salah satunya adalah mahasiswa.

Per Agustus 2025, Amerika Serikat menjadi negara pengakses ChatGPT tertinggi, dengan jumlah kunjungan mencapai 883 juta. Disusul oleh Indonesia di peringkat kelima dengan 216 juta kunjungan. Laporan dari Schwartz Reisman Institute berjudul Global Publik Opinion on AI menunjukkan persepsi warga Indonesia terhadap kecerdasan buatan. Sebanyak 65% responden berpendapat adanya AI akan menjadikan hidup lebih baik. Sedangkan sebanyak 18% responden menjawab sebaliknya dan 15% tidak yakin akan hal tersebut.
Laporan yang dilakukan pada Oktober 2023 itu juga mengungkap seberapa sering warga Indonesia menggunakan ChatGPT. Dari keseluruhan responden Indonesia yang terlibat, sebesar 20% responden menggunakan ChatGPT setiap hari. Sedangkan 39% responden rutin menggunakan ChatGPT secara mingguan. Sisanya, menggunakannya rutin secara bulanan dan 30% mengaku jarang.
Sekitar 70% pengguna itu berusia 18-34 tahun, rata-rata mereka adalah mahasiswa, karyawan profesional di awal karir, dan mahasiswa magister. Tidak dapat dipungkiri, ChatGPT memberikan banyak kemudahan bagi mahasiswa mulai dari mencari informasi, memahami materi, hingga membantu menyusun tugas. Hadirnya ChatGPT membawa suasana baru bagi mahasiswa, berbagai macam tugas mahasiswa bisa terjawab dan terselesaikan dalam hitungan detik. Bagi beberapa mahasiswa yang mempunyai tugas denganwaktu yang singkat, tentunya ini akan sangat membantu.
Meski demikian, penggunaan ChatGPT yang berlebihan akan menimbulkan ketergantungan, kemudahan akses cepat yang ditawarkan sering kali membuat mahasiswa tergoda mengandalkan jawaban instan tanpa berusaha memahami materi dengan sungguh-sungguh. Jika hal ini menjadi kebiasaan, mahasiswa akan kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan masalah secara mandiri. Tugas mereka mungkin selesai, tetapi merekabelum tentu benar-benar memahami materi yang dipelajari. Jika dibiarkan terus menerus, proses belajar akan kehilangan maknanya.
Pada akhirnya, yang menjadi persoalan bukan ada di teknologinya, melainkan ada pada cara mahasiswa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya teknologi tersebut. Pada dasarnya, ChatGPT bukanlah sesuatu yang harus dihindari atau dianggap buruk. Jika dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, teknologi ini bisa menjadi sarana belajar yang efektif.Oleh karena itu, pilihan ada di tangan mahasiswa sendiri.
Pada akhirnya, ChatGPT hanyalah alat, manfaatnya bergantung pada pemakaian mahasiswa itu sendiri. Teknologi itu seharusnya membantu proses belajar, bukan untuk menggantikan usaha.ChatGPT bisa menjadi teknologi yang bermanfaat, tetapi juga bisa dapat berubah menjadi jalan pintas jika digunakan tanpa tanggung jawab. (Fiza, Tim KS)