Kabar-syiar.com,- Kenaikan harga plastik yang mencapai 30 persen belakangan ini seharusnya tidak hanya dipandang sebagai beban ekonomi semata. Di balik keluhan para pedagang dan meningkatnya biaya operasional UMKM, fenomena ini sebenarnya menjadi alarm serius atas ketergantungan kita yang terlalu besar terhadap bahan baku berbasis fosil impor. Apa yang selama ini dianggap sebagai kebutuhan praktis, kini justru menunjukkan sisi rapuh dari sistem ekonomi yang kita bangun.

Kebijakan pemerintah yang memangkas bea masuk impor bahan baku plastik hingga nol persen memang terlihat sebagai solusi cepat untuk meredam tekanan pasar. Namun jika dilihat secara kritis, langkah tersebut hanya menjadi solusi jangka pendek yang belum menyentuh akar persoalan. Selama sebagian besar kebutuhan plastik nasional masih bergantung pada pasar global dan dinamika geopolitik luar negeri, terutama kawasan Timur Tengah, maka pelaku usaha dalam negeri akan terus berada dalam posisi rentan terhadap gejolak yang tidak dapat mereka kendalikan.

Kita perlu jujur bahwa dominasi plastik selama ini bukan semata karena kualitasnya, tetapi karena harganya yang murah dan mudah dijangkau. Murahnya plastik membuat masyarakat, industri, bahkan pelaku usaha kecil terlalu nyaman menggunakannya tanpa benar-benar mempertimbangkan dampak lingkungan maupun risiko ketergantungan pasokannya. Ketika hari ini harga plastik melonjak, kondisi tersebut justru membuka mata kita bahwa ketergantungan berlebihan pada satu bahan dapat menjadi ancaman ekonomi di masa depan.

Menurut saya pribadi, kondisi ini seharusnya tidak hanya dilihat sebagai krisis, tetapi juga sebagai momentum perubahan. Sebagai mahasiswa, saya melihat kenaikan harga plastik dapat menjadi titik awal untuk membangun kesadaran baru bahwa keberlanjutan harus mulai ditempatkan sejajar dengan kepentingan ekonomi. Indonesia memiliki potensi besar dalam mengembangkan kemasan alternatif berbasis sumber daya lokal, seperti serat singkong, bambu, daun, maupun rumput laut yang lebih ramah lingkungan dan memiliki ketersediaan yang lebih stabil.

Daripada terus mempertahankan sistem yang bergantung pada bahan impor dan produk sekali pakai, pemerintah bersama pelaku industri seharusnya mulai mengarahkan investasi pada inovasi kemasan berkelanjutan. Meskipun proses peralihan ini membutuhkan waktu, biaya, dan adaptasi, saya percaya langkah tersebut akan membawa manfaat jangka panjang bagi ekonomi nasional, lingkungan, dan generasi mendatang.

Jika kita hanya berharap harga plastik kembali murah, maka sebenarnya kita hanya sedang menunda krisis berikutnya. Sudah saatnya plastik tidak lagi dipandang sebagai simbol kemudahan yang absolut, melainkan sebagai pengingat bahwa kemandirian ekonomi dan keberlanjutan lingkungan harus menjadi prioritas utama di masa depan. (Putri, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *