Kabar-syiar.com,- Rabu pagi, (13/05/26) Matahari mulai meninggi di Kota Bengkulu ketika lorong-lorong Gedung Pasar Minggu perlahan dipenuhi cahaya yang masuk melalui sela bangunan tua. Namun, tak banyak aktivitas yang terlihat. Beberapa kios masih tertutup rapat, sementara sebagian lainnya hanya dijaga pedagang yang duduk menunggu pembeli datang.

Suasana itu jauh berbeda dibanding beberapa tahun silam. Dahulu, Gedung Pasar Minggu dikenal sebagai salah satu pusat keramaian masyarakat. Sejak pagi hari, kawasan pasar dipenuhi suara kendaraan, percakapan pedagang, hingga aktivitas tawar-menawar yang nyaris tak pernah berhenti. Banyak masyarakat datang untuk mencari kebutuhan sehari-hari, sementara para pedagang sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan.

Kini, keramaian itu perlahan memudar.Di beberapa sudut gedung, terlihat kios-kios kosong yang sudah lama tidak digunakan. Cat bangunan mulai kusam dimakan usia, sementara lorong pasar terasa lengang. Hanya sesekali terdengar suara langkah kaki pengunjung yang melintas.

Seorang pedagang yang telah lama berjualan di kawasan tersebut mengaku keadaan pasar mulai berubah dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kebiasaan masyarakat dalam berbelanja sudah tidak lagi sama seperti dahulu. “Sekarang orang lebih memilih yang praktis dan cepat. Jadi pasar tidak seramai dulu,” ujarnya sambil merapikan barang dagangannya.

Pendapat serupa juga disampaikan warga sekitar. Mereka menilai perubahan zaman membuat masyarakat memiliki banyak pilihan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aktivitas yang dulu selalu dilakukan dengan datang langsung ke pasar kini perlahan mulai berkurang.

Meski begitu, bagi sebagian orang, Gedung Pasar Minggu bukan sekadar tempat berjualan. Pasar tersebut menyimpan banyak kenangan tentang kehidupan masyarakat Kota Bengkulu di masa lalu. Ada yang pernah membantu orang tua berdagang sejak kecil, ada pula yang tumbuh bersama ramainya suasana pasar setiap akhir pekan.

Bagi pedagang yang masih bertahan, pasar bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tentang mempertahankan kehidupan yang telah dijalani bertahun-tahun. Walaupun pembeli tidak lagi sebanyak dulu, mereka tetap membuka kios setiap hari dengan harapan masih ada pengunjung yang datang.

Di tengah lorong yang semakin sunyi, Gedung Pasar Minggu Bengkulu tetap berdiri sebagai saksi perubahan waktu. Tempat yang dahulu penuh itu kini menyisakan suasana tenang, seolah menyimpan cerita tentang masa ketika pasar tradisional menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kota. (Gading, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *