Kabar-syiar.com,- Canting-canting kecil terlihat sibuk bergerak di atas kain putih di salah satu rumah warga Desa Panca Mukti. Di ruangan sederhana itu, ibu-ibu desa duduk bersama sambil menggambar motif batik dengan penuh ketelitian. Dari kegiatan kecil itulah Kampung Batik Panca Mukti perlahan tumbuh menjadi identitas baru desa.

Kampung Batik Panca Mukti berdiri pada tahun 2020, saat pandemi Covid-19 membuat kondisi ekonomi masyarakat melemah. Untuk membantu warga tetap memiliki kegiatan produktif, sejumlah ibu rumah tangga diajak mengikuti pelatihan membatik yang kemudian berkembang menjadi usaha bersama masyarakat desa.
Ketua kelompok batik Desa Panca Mukti, Nanik, mengatakan masyarakat desa yang mayoritas merupakan warga transmigrasi berusaha membangun kembali semangat kebersamaan melalui kegiatan membatik. “Waktu pandemi banyak masyarakat yang kesulitan ekonomi, jadi kami mengajak ibu-ibu di desa untuk belajar membatik bersama,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (08/05/26).
Salah satu ciri khas batik yang dibuat warga adalah motif Sungai Lemau. Nama tersebut diambil dari kerajaan Sungai Lemau yang pernah berjaya di wilayah Bengkulu Tengah pada masanya. Batik ini juga memiliki karakteristik khusus melalui motif Gunung Bungkuk yang menjadi pembeda dengan motif batik lainnya.
Menurut Nanik, penamaan Batik Sungai Lemau merupakan hasil musyawarah bersama pemerintah daerah agar batik tersebut memiliki identitas khas Bengkulu Tengah. Kini, hasil batik warga mulai dipasarkan melalui media sosial, pameran UMKM, hingga penjualan di sekitar daerah.
Kampung Batik Panca Mukti pun terus berkembang dengan harapan dapat menjadi sentra pengrajin batik di Bengkulu Tengah. “Harapan kami, nantinya anggota yang ikut membatik bisa mandiri dan Desa Panca Mukti benar-benar dikenal sebagai kampung pengrajin batik. Kami juga ingin pemasaran
batik ini tidak hanya di Bengkulu Tengah, tetapi bisa sampai nasional bahkan internasional,” katanya.
Dari sebuah desa kecil di Bengkulu Tengah, lembaran kain batik kini bukan hanya menjadi karya budaya, tetapi juga simbol harapan masyarakat untuk terus berkembang di masa depan. (Ismi, Tim KS)