Kabar-syiar.com,- Suasana di salah satu pasar yang ada di kota Bengkulu masih terlihat setengah sunyi. Lorong pasar itu tampak setengah terjaga. Beberapa kios masih tertutup rapat, sementara sebagian lain mulai di buka perlahan. Di salah satu sudut pasar, sebuah lapak sembako kecil terlihat sederhana, rak kayu berisi kebutuhan harian, gantungan sachet yang berderet, dan suasana yang masih sepi dari pembeli. Sunyi, tapi bukan berarti tak ada cerita.

Lapak kecil itu milik seorang suami dan istri yang sudah sekitar 20 tahun berjualan di kawasan pasar. Pukul delapan pagi, ia mulai membuka dagangannya di pasar minggu kota Bengkulu yang berada di kawasan PTM. Namun, aktivitas itu bukanlah awal dari harinya Sejak pukul lima pagi, ia dan sang suami sudah lebih dulu berjualan di pasar panorama kota Bengkulu. Dari rumah mereka di jalan nangka, yang juga berada di sekitar kawasan pasar tersebut, keduanya berangkat saat sebagian orang masih terlelap.“Dari jam lima di pasar panorama, nanti lanjut ke sini lagi jam delapan”, ujar sang ibu.
Setelah aktivitas di Pasar Panorama mulai sepi, sekitar pukul delapan pagi mereka berpindah ke Pasar Minggu yang berada di kawasan PTM, Kota Bengkulu. Di sana, mereka kembali membuka lapak sembako kecil mereka.Rutinitas itu sudah mereka jalani bertahun-tahun. Berpindah dari satu pasar ke pasar lain bukan hal baru, melainkan cara mereka menyiasati keadaan agar penghasilan tetap cukup.
Namun, berdagang saja belum tentu mencukupiDi sela waktu senggang, mereka mengambil pekerjaan tambahan. Di sudut pasar, keduanya duduk bersila, mengerjakan tugas sederhana: memilah cabai dari tangkainya. Cabai itu bukan milik mereka, melainkan milik teman sang suami yang kemudian memberikan upah atas pekerjaan tersebut. “Ini punya teman bapaknya, kami cuma bantu. Buat nambah-nambah penghasilan,” kata Ibu.
Tangan mereka bergerak cepat, seolah sudah terbiasa dengan ritme pekerjaan itu. Satu per satu cabai dipisahkan, dimasukkan ke wadah lalu di rapihkan kembali untuk dimasukkan ke dalam sebuah karung. Tak banyak percakapan, hanya kerja yang terus berjalanBagi mereka, pekerjaan ini bukan sekadar pengisi waktu. Ada alasan sederhana yang membuat mereka tetap bertahan menjalaninya. “Buat ngasih cucu jajan di rumah”, ucapnya sambil tersenyum tipis.
Kalimat itu terdengar ringan, namun menyimpan makna yang dalam. Dari pekerjaan kecil itulah, mereka menyisihkan sedikit demi sedikit untuk keluargaDi tengah kondisi pasar yang tak selalu ramai, mereka memilih untuk tidak bergantung pada satu sumber penghasilan. Waktu dari pagi hingga siang di manfaatkan sepenuhnya dengan berjualan, lalu bekerja lagi.
Tak ada yang mewah dari keseharian mereka. Hanya rutinitas panjang, tenaga yang terus di keluarkan, dan harapan, sederhana agar hidup tetap berjalan Bagi sebagian orang, pasar hanyalah tempat jual beli. Namun, bagi pasangan ini, pasar adalah ruang perjuangan tempat mereka menghabiskan waktu, tenaga, dan harapan selama puluhan tahun.
Dari subuh di pasar panorama hingga siang di pasar minggu, mereka terus bergerak. Tanpa banyak pilihan, tanpa banyak keluhan.Selama 20 tahun, mereka telah menjalani itu semua. Dan hingga hari ini, mereka masih terus melangkah, tanpa benar-benar berhenti. (Nadia, Tim KS)