Kabar-syiar.com,- Di tepi jalan desa Sumber Makmur, Kecamatan Sukaraja , Kabupaten Seluma, Bngkulu, berdiri sebuah pondok kecil sederhana yang mulai dimakan usia. Dindingnya tampak kusam, kursi kayunya telah usang, sementara sebuah wajan penggorengan hitam menjadi saksi bisu perjalanan panjang sepasang lansia yang menggantungkan hidup dari berjualan gorengan.



Di pondok itulah Sujono (70) dan istrinya, Sutami (68), menghabiskan hari-hari mereka. Sejak pagi, keduanya sudah sibuk menata dagangan. Aroma pisang goreng, tahu isi, dan bakwan kerap menguar ke jalan, menarik perhatian pengendara yang melintas.

Bagi Sujono, berjualan bukan sekadar aktivitas mengisi waktu di masa tua. Ada kebutuhan yang harus tetap di penuhi. “Karena pemasukan kurang, jadi kami jualan untuk kebutuhan sehari-hari juga,” Ujarnya pelan.


Ia mengaku telah berjualan hampir 13 tahun lamanya. Waktu yang tidak sebentar bagi pasangan lansia yang kini harus melawan usia dan kondisi kesehatan demi tetap bertahan hidup.

Setiap hati, mereka membuka dagangan sekitar pukul 06.30 hingga pukul 17.00 sore. Rutinitas itu terus dijalani tanpa bayak keluhan. Namun dibalik kesederhanaan ondok kecil tersebut, tersimpan pemandangan yang kerap mengundang rasa iba.

Sesekali, Sujono dan Sutami terlihat berbaring di kursi tua sambil menunggu pembeli datang. Tak jarang keduanya tertidur karena lelah. Meski begitu, mereka tetap setia menjaga dagangan hingga sore menjelang.

Pembeli yang datang memang tidak selalu ramai, tetapi juga tidak terlalu sepi. Di dekat tempat mereka berjualan bahkan terdapat pondok lain yang menjajakan makanan lebih lengkap, mulai dari nasi hingga berbagai jenis gorengan dengan pilihan lebih banyak. Namun keadaan itu tidak membuat Sujono merasa iri. Ia percaya bahwa setiap orang telah memiliki rezekinya masing-masing. “Rezeki sudah diatur yang di atas,” katanya sederhana.

Perjalanan mereka pun tidak selalu mulus. Sujono pernah beberapa minggu menutup dagangan karena sakit. Setelah dirinya jatuh sakit, sang istri juga mengalami kondisi serupa. Meski begitu, keduanya memilih tetap tegar dan tidak menyerah pada keadaan. Semangat mereka justru kembali tumbuh ketika memutuskan menambah menu baru, yakni sate ayam, demi menarik lebih banyak pembeli.

Bagi pasangan lansia itu, berdagang bukan hanya soal mencari uang, melainkan juga cara bertahan dan menjalani hidup dengan penuh kesabaran. Gorengan yang tidak habis terjual biasanya dibagikan kepada warga di sekitar tempat mereka berdagang, sementara sisanya dibawa pulang. Rutinitas itu terus berulang setiap hari, kecuali hari Minggu saat mereka memilih beristirahat.

Di tengah kerasnya kehidupan, pondok kecil milik Sujono dan Sutami menjadi gambaran tentang keteguhan dua lansia yang tetap berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Di balik wajan tua dan kursi usang itu, tersimpan cerita tentang perjuangan, kesederhanaan, dan keyakinan bahwa hidup harus tetap dijalani sekuat tenaga. (Mellyah, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *