Kabar-syiar.com,- Langkah kakinya konstan membelah jalanan semen setapak yang mulai tertutup lumut hijau. Dari belakang, sosoknya tampak tegap meski beban di pundak kirinya jelas tidak ringan. Sebuah ransel kain berwarna biru tua menggantung setia, bergerak seirama dengan ayunan kakinya yang beralaskan sepatu kain putih usang.

Di sekelilingnya, alam pedesaan Bengkulu menyajikan lanskap yang megah sekaligus sunyi. Batang-batang pohon kelapa menjulang lurus menembus langit, bersinggungan dengan rimbunnya pohon sawit dan tanaman pakis yang tumbuh liar. Namun, fokus pria paruh baya bertopi biru ini bukan pada keindahan visual itu, melainkan pada jengkal demi jengkal tanah dan pepohonan yang menjadi tumpuan hidupnya sehari-hari.
Ia adalah Pak Kardinal (58), seorang pekerja serabutan yang mendedikasikan hari-harinya untuk menyisir perkebunan demi menghidupi keluarga. Saat ditemui di sela-sela perjalanannya membelah rimbunnya kebun kelapa, Sabtu (16/5/2026), Pak Kardinal sempat menghentikan langkah. Ia membalikkan badan, menyeka peluh di dahinya, lalu membenarkan posisi topi birunya yang mulai pudar.
Di bawah teduhnya pohon kelapa, ia mulai membuka cerita tentang rutinitas harinya yang sunyi. “Saya biasanya keluar rumah itu setelah sarapan, sekitar jam 7 atau jam 8 pagi. Tergantung cuaca juga,” ujar Pak Kardinal dengan nada suara yang tenang, nyaris berbisik di antara desau angin kebun.
Bagi pria paruh baya ini, tidak ada istilah memilih pekerjaan. Selama keringatnya bisa diuangkan secara halal, ia akan melakukannya. “Kalau di sini, kerjaan saya ya serabutan, apa saja yang bisa menghasilkan. Kadang memeriksa pohon kelapa yang siap dipanen, kadang membersihkan lahan orang, atau mengumpulkan apa yang bisa dijual. Jalan kaki ini sudah makanan sehari-hari,” tuturnya.
Sembari bercerita, jemarinya yang kasar perlahan menyentuh tali ransel biru yang melingkar di pundaknya. Sebuah senyum tipis mendadak terukir di wajahnya yang mulai dihiasi garis-garis penuaan. “Ransel ini? Isinya ya bekal air minum, sedikit perkakas, dan harapan supaya pas pulang nanti tas ini bisa penuh bawa hasil.” Kalimat terakhirnya diucapkan dengan ketulusan seorang ayah yang menolak menyerah pada keadaan.
Bagi Pak Kardinal, ransel biru itu bukan sekadar tempat menyimpan botol air atau sabit kecil, melainkan wadah dari impian-impian keluarganya yang menunggu di rumah. Melakoni pekerjaan di jalur perkebunan seperti ini nyatanya menuntut kewaspadaan penuh. Jalan semen yang lembap oleh embun pagi dan tertutup lumut tipis sangat rawan membuat kaki terpeleset.
Belum lagi ancaman dari langit perkebunan; pelepah kering atau buah kelapa seberat kiloan bisa jatuh kapan saja tanpa peringatan saat angin kencang bertiup.Namun, bagi Pak Kardinal, rasa takut selalu kalah oleh tanggung jawab. Setiap hari adalah pertaruhan antara tenaga yang terkuras habis dan pendapatan yang tidak pernah menentu.
Sebagai pekerja serabutan, tidak ada angka pasti yang bisa ia janjikan untuk dibawa pulang setiap sore. Kadang, tas birunya pulang dengan berat oleh hasil penjualan kelapa yang lumayan. Namun di hari lain, ia harus berpuas diri hanya membawa upah tebas rumput yang pas-pasan untuk menyambung makan esok hari.
Meskipun rambut di balik topi birunya kini telah memutih seluruhnya, semangat Pak Kardinal tidak menunjukkan tanda-tanda surut. Langkah kakinya yang mantap justru memperlihatkan ketangguhan seorang pria yang menolak tunduk pada usia.
Di balik kesunyian dan rimbunnya kebun kelapa Bengkulu, Pak Kardinal adalah bukti nyata dari sebuah cinta yang bergerak. Ia terus berjalan maju, meniti jalanan licin dan berlumut, demi memastikan dapur di rumahnya tetap mengepul dan masa depan keluarganya tetap tegak berdiri. (Indri, Tim KS)