Kabar-syiar.com,- Angin Di pesisir Desa Pulau Baru, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Muko Muko, gelombang kecil perlahan menyapu hamparan pasir yang tak biasa. Bukan hanya biru laut yang memikat, melainkan deretan ratusan pohon cemara laut yang berdiri tegak menciptakan kanopi alami.

Dulu, tempat ini hanya jalur singgah nelayan sebelum melaut. Nama “Batu Kumbang” konon berasal dari formasi batu hitam menyerupai kumbang yang menjulang di bibir pantai, menjadi penanda lokasi sejak puluhan tahun lalu. Kini, Pantai Batu Kumbang di Desa Pulau Baru, Kecamatan Ipuh, Kabupaten Muko Muko, telah bertransformasi menjadi destinasi wisata yang sengaja dijaga keasriannya.

Pantai ini seakan menjadi magnet Karena ia menawarkan keseimbangan langka antara keindahan visual dan ketenangan jiwa. Bukan sekadar tempat berfoto, Batu Kumbang sengaja dipertahankan sebagai ruang istirahat yang memulihkan. ia tetap asri di tengah tekanan pariwisata modern saat ini, Melalui disiplin kolektif seperti pembatasan kendaraan di area pasir, penempatan tempat sampah terpilah, serta kegiatan tahunan menanam anakan cemara untuk menahan abrasi.

Andi Saputra, salah satu penjaga pantai yang telah mengabdi sejak 2010 hingga kini, memahami betul rahasia di balik keutuhan ini. “Yang unik di pantai ini adalah perpaduan pasir putih yang halus dan bersih dengan ratusan pohon cemara laut yang rindang, menciptakan suasana teduh dan sejuk. Pemandangan air laut yang biru jernih serta suasananya yang tenang menjadikannya lokasi favorit untuk bersantai,” ujarnya.

Di balik keindahan yang seolah abadi
itu, tersimpan  konflik  kecil yang terus dikelola benturan antara kenyamanan pengunjung jangka pendek dengan keberlanjutan ekosistem. Namun, warga dan pengurus memilih jalan gotong royong. Aturan tak tertulis ditaati, bukan karena paksaan, melainkan kesadaran bahwa pantai ini adalah warisan, bukan komoditas.

Upaya itu berbuah nyata bagi pengunjung seperti Fahra Tunnisa, warga Ipuh yang berkunjung diakhir pekan Mei 2026 ini. “Saya terkesan dengan pasir putih dengan banyaknya pohon cemara yang rindang yang membuat pantai ini terlihat indah dan pantainya terlihat bersih dan sangat terjaga,” ujar fahra sambil tersenyum ceria.

Batu Kumbang bukan hanya sekedar destinasi biasa melainkan bukti bahwa keindahan itu lahir dari ketulusan menjaga, dari pilihan untuk tidak mengeksploitasi, dan dari ruang yang membiarkan manusia bernapas lega. Di tengah deru modernitas, pantai ini tetap memilih diam, teduh, dan setia. Selama cemara-cemaranya masih rindang dan penjaganya masih setia, Batu Kumbang akan terus menjadi tempat bagi mereka yang lelah oleh kebisingan dunia. (Seci, Tim KS)


By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *