Kabar-syiar.com,- Di tengah lalu lalang kendaraan dan ramainya aktivitas di kawasan Simpang Sekip, Kota Bengkulu. Seorang pria lanjut usia dengan punggung yang membungkuk dan langkah yang tak lagi tegap, tampak perlahan mendorong gerobak jualannya. Namanya Pak Erik, seorang perantau asal Aceh. Di usianya yang telah menginjak 73 tahun, tidak sekalipun menghentikan semangatnya menjajakan bubur sumsum demi menyambung asa
di usia senja.

Pak Erik bukanlah penjual bubur sumsum baru. Ia telah menekuni pekerjaannya selama 12 tahun terakhir. Setiap hari, Pak Erik harus menempuh perjalanan kurang lebih 8 km dari rumahnya di  Bentiring menuju Sawah Lebar, di sanalah gerobak sumsumnya menunggu. Teriknya matahari tidak pernah menyurutkan semangatnya untuk terus berjualan di tengah kota.

Tak mahal, hanya Rp7.000 per bungkus. Namun, dari dagangan sederhana itulah Pak Erik bertahan dan menjaga harapannya setiap hari. Gerakan tangan yang tampak gemetar saat membungkus bubur sumsum, tidak menutupi setiap gerak tangan keriput Pak Erik yang tampak terampil. Ini bukti yang menunjukkan ketelatenan seorang pedagang yang telah bertahun-tahun akrab dengan profesinya.

Berjualan bubur sumsum ini penghasilannya tak menentu. Namun, Pak Erik tak pernah berhenti mengucap syukur. “Ya namanya juga jualan, jadi kadang rame kadang tidak, jadi ya disyukuri saja” ujarnya.

Dengan langkah yang pelan namun pasti, Pak Erik mendorong pelan gerobaknya menyusuri tengah kota membawa secercah harapan tentang bubur sumsumnya. Menunggu rezeki baginya bukan beban, melainkan bagian dari proses panjang yang sudah ia terima dengan lapang dada.

Di usianya yang tak lagi muda, Pak Erik menjalani kehidupannya seorang diri, mengandalkan tenaga yang tersisa untuk terus bertahan mencukupi hidupnya. “Istri saya sudah meninggal terus anak-anak saya udah nikah semua,” tuturnya. Tak banyak yang menemaninya di usia senja, selain gerobak bubur sumsum yang setia menjadi bagian dari perjuangannya setiap hari.

Teriknya matahari tidak pernah berhenti menyurutkan semangatnya untuk terus berjualan. Usia Senjanya juga tidak menjadi alasan Pak Erik untuk tidak bersemangat menjalani kehidupannya sebagai penjual bubur sumsum. (Fiza, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *