Kabar-syiar.com,- Cahaya layar ponsel menjadi teman hampir setiap malam bagi Vani saat duduk di bangku SMP. Dari kamar kecilnya, ia mengenal satu per satu wajah anggota NCT melalui video musik dan potongan siaran langsung di media sosial. Saat teman-temannya menganggap itu hanya kegemaran sesaat, ia justru tidak menyangka bahwa musik dari idol Korea tersebut akan menemaninya tumbuh hingga memasuki dunia kerja.

Seorang perempuan berusia 22 tahun yang merupakan penggemar NCT menceritakan bagaimana K-Pop menjadi bagian dari hidupnya sejak duduk di bangku SMP. Ia mengaku pertama kali mengenal grup tersebut sekitar tahun 2018 melalui media sosial dan rekomendasi teman sekolah.

Saat itu, K-Pop mulai ramai dibicarakan di lingkungan pertemanannya. Video musik, dance challenge, dan berbagai konten idol Korea mudah ditemukan di internet. Rasa penasaran membuatnya mulai mendengarkan beberapa lagu dari NCT hingga akhirnya tertarik mengikuti aktivitas grup tersebut secara lebih serius. “Awalnya cuma lihat video lewat media sosial. Lama-lama jadi sering dengar lagu mereka dan mulai cari tahu tentang member-membernya,” ujarnya saat diwawancarai, Jumat (8/5).

Ia mengatakan masa SMP menjadi awal dirinya masuk ke dunia fandom. Di usia remaja, ia mulai aktif mengikuti perkembangan idolanya melalui internet, menonton variety show, hingga mengoleksi poster dan photocard. Sebagian uang jajannya disisihkan untuk membeli album atau merchandise sederhana yang dijual secara online.

Menurutnya, saat itu menjadi penggemar K-Pop bukan sesuatu yang mudah dilakukan secara terbuka. Ia mengaku sempat merasa malu karena takut dianggap berlebihan oleh orang lain. Bahkan, beberapa teman pernah mengejek hobinya karena dianggap terlalu mengidolakan artis luar negeri. “Dulu sering dibilang lebay kalau terlalu suka sama idol. Jadi kadang saya simpan sendiri kesukaan itu,” katanya.

Meski begitu, ketertarikannya terhadap K-Pop tidak berhenti. Ia justru merasa musik menjadi salah satu hal yang membantunya melewati masa-masa sulit selama remaja. Ketika menghadapi tekanan sekolah, tugas yang menumpuk, atau masalah pertemanan, lagu-lagu yang ia dengarkan dianggap mampu memperbaiki suasana hati. “Kalau lagi capek atau banyak pikiran, biasanya saya dengar lagu mereka. Rasanya lebih tenang dan mood jadi lebih baik,” ujarnya.

Selain musik, ia juga mulai menemukan lingkungan sosial baru melalui komunitas penggemar K-Pop di media sosial. Dari sana, ia berkenalan dengan banyak orang dari berbagai daerah yang memiliki minat yang sama. Mereka sering berbagi cerita tentang sekolah, kehidupan pribadi, hingga aktivitas sehari-hari.

Menurutnya, komunitas fandom bukan hanya tempat membahas idol, tetapi juga ruang untuk saling mendukung satu sama lain. Ia mengaku pernah mendapat banyak semangat dari teman-teman fandom ketika sedang mengalami masalah pribadi maupun tekanan selama sekolah. “Kadang kami bukan cuma bahas konser atau lagu, tapi juga cerita soal hidup masing-masing. Jadi terasa punya teman walaupun belum pernah ketemu langsung,” katanya.

Memasuki masa SMA, ketertarikannya terhadap K-Pop semakin besar. Ia mulai mengikuti berbagai kegiatan fandom secara lebih aktif, termasuk membeli album resmi dan mengikuti acara nonton bersama konser online. Pada masa itu, keinginannya untuk menonton konser secara langsung juga mulai muncul.

Namun sebagai pelajar, ia sadar kondisi keuangannya masih terbatas. Ia hanya bisa melihat suasana konser melalui video di internet dan unggahan penggemar lain di media sosial. Meski begitu, keinginan tersebut tetap ia simpan hingga beberapa tahun kemudian.

Momen yang paling berkesan baginya terjadi ketika berhasil menonton konser NCT untuk pertama kalinya setelah mulai bekerja. Ia mengatakan pengalaman melihat idolanya secara langsung menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. “Saya sampai nangis waktu konser pertama. Soalnya dari SMP cuma lihat lewat layar HP, terus akhirnya bisa lihat langsung di depan mata,” ujarnya sambil tertawa kecil.

Ia menjelaskan bahwa konser bukan hanya tentang melihat penampilan idol di atas panggung, tetapi juga pengalaman bertemu ribuan orang dengan minat yang sama. Menurutnya, suasana konser memberikan rasa bahagia dan semangat baru setelah menjalani rutinitas pekerjaan sehari-hari.

Kini setelah memasuki dunia kerja, ia mengaku masih aktif mengikuti perkembangan grup favoritnya. Sebagian penghasilannya disisihkan untuk membeli tiket konser, album, atau merchandise resmi. Meski demikian, ia tetap berusaha mengatur pengeluaran dan mendahulukan kebutuhan utama. “Sekarang lebih bisa atur sendiri mana kebutuhan dan mana keinginan. Jadi kalau mau nonton konser biasanya sudah ditabung dari jauh-jauh hari,” katanya.

Ia juga menilai pandangan masyarakat terhadap penggemar K-Pop saat ini mulai berubah dibanding beberapa tahun lalu. Jika dulu penggemar sering dianggap terlalu fanatik, kini K-Pop justru sudah menjadi bagian dari budaya populer yang diterima oleh banyak kalangan.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin banyaknya komunitas K-Pop yang berkembang di berbagai daerah. Tidak sedikit pula penggemar yang menjadikan fandom sebagai tempat membangun relasi sosial dan kegiatan positif, seperti bakti sosial, donasi, hingga penggalangan dana kemanusiaan.

Menurutnya, menjadi penggemar K-Pop bukan hanya soal mengikuti tren hiburan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidup yang telah menemani dirinya tumbuh dari masa remaja hingga dewasa. “Banyak orang pikir K-Pop cuma hiburan biasa. Tapi buat saya, itu sudah jadi bagian dari hidup dan proses saya sampai sekarang,” tuturnya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa budaya populer seperti K-Pop tidak hanya memberikan hiburan semata, tetapi juga membentuk pengalaman sosial dan emosional bagi sebagian anak muda. Di tengah tekanan pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari, musik dan komunitas fandom menjadi ruang bagi mereka untuk merasa didengar, diterima, dan memiliki tempat untuk bertahan. (Angel, Tim KS)

By Kabar - syiar.com

Kabar-syiar.com adalah media informasi online dengan pendekatan nilai-nilai dakwah, yang di kelola langsung oleh mahasiswa KPI sebagai wadah untuk belajar dan mengasah skil dalam Jurnalistik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *