Aroma gurih sempol ayam sangat terasa dari gerobak kecil di kawasan Karang Nanding, Bengkulu Tengah, Bengkulu. Di tengah suasana lalu lintas kendaraan yang ramai, Pak Agus tampak sibuk membolak-balik sempol ayam di atas minyak panas. Gerakannya sangat cepat, dan sesekali tersenyum kepada pembeli yang mengantre. Aroma sempol yang baru diangkat seakan menjadi obat rasa lelah bagi siapa saja yang melintas siang itu.

Meskipun bagi sejumlah orang sempol hanya jajanan murah yang ada di pinggir jalan, namun bagi Pak Agus, gerobak kecil itu merupakan harapan yang terus dia pertahankan selama beberapa tahun terakhir.
Setiap hari, Pak Agus mulai berjualan sejak pukul delapan pagi sampai enam sore. Sebelum berjualan, Pak Agus sudah bangun sejak subuh untuk menyiapkan adonan ayam, menusuk sempol satu per satu, hingga menyiapkan bumbu dan saus di rumahnya yang sederhana.
Cuaca panas ataupun hujan tak pernah benar-benar membuat Pak Agus berhenti berjualan. Dia tetap berdiri di dekat gerobaknya, menunggu pembeli datang satu per satu. Meski harus berdiri berjam-jam dan berpindah tempat mencari keramaian, lelaki paruh baya itu tetap menjalani pekerjaannya dengan sabar.
Baginya, lelah bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. “Namanya cari rezeki, capek pasti ada. Tapi kalau ingat anak dan istri di rumah, saya jadi semangat lagi jualan,” ujar Pak Agus saat diwawancarai, Sabtu (9/5/26).
Menjelang malam, saat antrean pembeli mulai berkurang. Pak Agus perlahan membereskan gerobaknya. Sisa sempol yang tidak habis dijual ia bungkus rapi untuk dibawa pulang. (Lisa)